Penatalaksanaan non farmakologi
Rabu, 20 Juli 2016
PENATALAKSANAAN NONFARMAKO HEMOFILIA
Penatalaksanaan non farmakologi
Penatalaksanaan non farmakologi
Prinsip penatalaksanaan
hemofilia klasik adalah:
1.
Pengobatan dasar
- Tindakan saat terjadi
perdarahan
- Tindakan saat
perdarahan artifisial
- Pengobatan pencegahan
- Pengobatan di
rumah
2. Perawatan komprehensif
3. Deteksi karier dan diagnosis
prenatal
1. Pengobatan Dasar
Pengobatan yang dimaksud adalah pemberian faktor pembekuan yang kurang/defisiensi kepada
individu secara langsung lewat vena, berarti mencegah perdarahan atau mengurangi perdarahan serta efek samping.
a. Tindakan
saat terjadi Perdarahan
Bila terjadi perdarahan pada sendi dan otot, baik sebelum maupun sesudah mendapat terapi, langkah-langkah ”RICE” berikut hendaknyadiikuti
yaitu: istirahatkan anggota tubuh dimana ada luka (R), kompres bagian tubuh yangluka dan daerah sekitar dengan es atau bahan lain yang
lembut dan beku/dingin (I), tekan dan ikat, sehingga bagian tubuh yang mengalami perdarahan tidak dapat bergerak. Gunakan perban elastis jangan terlalu keras (C), letakkan bagian tubuh tersebut dalam posisi lebih tinggi dari posisi dada dan letakkan diatas benda yang lembut seperti bantal (E).
b. Tindakan saat Perdarahan Artifisial
Contohnya pada saat
pencabutan gigi pada anak, pencabutan
gigi tidak boleh lebih dari 2 buah pada saat bersamaan, walaupun pada hemofilia ringan. Kemungkinan
terjadi perdarahan akibat imunisasi dapat diatasi
dengan penekanan lokal selama
5 menit pada tempat
suntikan.
c. Pengobatan
Pencegahan
Tujuan pengobatan pencegahan ini adalahuntuk
mempertahankan FVIIIC dalam darah pada kadar
hemostatik. Pengobatan pencegahan ada 2 yaitu:
- Pencegahan primer, pemberian FVIII secara regular, kontinyu dimulai saat sebelum anak berusia 2 tahun atau
setelah anak menderita perdarahan sendi yang pertama kalinya.
- Pencegahan sekunder, pemberian
FVIII bisa secara regular atau kontinyudimulai saat anak berusia lebih dari 2 tahun atau setelah terjadi
perdarahan pada 2 atau lebih sendi.
d. Pengobatan
di Rumah
Pengobatan di rumah yang terbaik adalah pemberian konsentrat
FVIII. Pengobatan dirumah merupakan bagian dari perawatan komprehensif. Serta,
berkunjung rutin setiap 6-12 bulan ke klinik untuk meyakinkan
bahwa penderita sehat fisik dan jasmani.
2. Perawatan
Komprehensif
Perawatan kesehatan
secara umum, merupakan hal yang
penting pula dalam perawatan penderita
hemofilia. Agar kondisi terjaga dengan baik beberapa hal perlu mendapat perhatian yaitu :
- Senantiasa menjaga berat
tubuh tidak berlebihan serta mengkonsumsi makanan dan
minuman yang sehat.
Karena berat badan berlebihan
dapat mengakibatkan perdarahan pada sendi-sendi di bagian kaki (terutama hemofilia berat).
-Melakukan kegiatan olah raga teratur. Olahraga akan membentuk kondisi otot
yang kuat, sehingga bila berbentuk otot tidak mudah terluka, perdarahan
dapat dihindari. Olah raga yang dipilih hendaknya
jangan yang beresiko
kontak fisik seperti sepak bola, karate, gulat. Olahraga yang paling dianjurkan adalah renang dan bersepeda.
-Menghindari penggunaan
obat aspirin merupakan salah satu perawatan umum penderita
hemofilia karena obat ini dapat meningkatkan perdarahan.
3. Deteksi Carrier dan Diagnosis Prenatal
Deteksi karier dan diagnosis prenatal
merupakan implementasi strategi
dari pencegahanyang akan dapat mengurangi jumlah penderita dengan hemofilia berat. Dalam keluarga hemofilia
seorang perempuan dikatakan
sebagai karier obligat dapat ditelusuri
lewat silsilah.
Obligat karier adalah
seorang perempuan yang
menampakkan satu
atau lebih gejala berikut :
- ayahnya seorang penderita hemofilia
- perempuan yang mempunyai dua atau lebih anak laki-laki menderita hemofilia (bukan kembar identik)
- perempuan dengan satu anak laki menderita hemofilia dan saudara
perempuannyamempunyai anak hemofilia
- melahirkan anak hemofilia dan ada riwayat melahirkan anak hemofilia pada garis
keturunan ibu
Rabu, 13 Juli 2016
IMUNOFARMAKOLOGI
I. IMUNORESTORASI
A. ISG dan HSG
imunoglobulin dapat diberikan sebagai imunorestorasi pada penderita dengan defisiensi imun humoral, baik primer maupun sekunder. defisiensi immunoglobulin sekunder dapat terjadi bila tubuh kehilangan Ig dalam jumlah besar, misalnya pada sindrom nefrotik, limfangiektasi intestinal, dermatitis eksfoliaktif dan luka bakar. pada luka bakar yang luas, imunitas dapat terganggu dan penderita meninggal akibat sepsis yang tidak dapat ditolong dengan pemberian antibiotik.
ISG maupun HSG dapat digunakan untuk imunorestorasi. ISG diberikan secara IV dengan aman. efek sampingnya berupa menggigil, mual, muntah, pusing dan sakit otot yang ringan dapat dihilangkan dengan menghentikan atau memperlambat pemberiannya. reaksi anafilaksis timbul bila terjadi kompleks imun yang terdiri dari anti IgA yang dibentuk resipien yang defisiensi IgA terhadap IgA yang berasal dari preparat ISG. kompleks tersebut dapat mengaktifkan komplemen melalui jalur klasik atau alternatif. antibodi dapat dibentuk terhadap B-lipoprotein yang berada dalam ISG.
B. PLASMA
infus plasma segar sudah diberikam sejak tahun 1960 dalam usaha memperbaiki sistem imun. keuntungannya ialah karena semua jenis imunoglobulin dapat diberikan dalam jumlah besar tanpa menimbulkan rasa sakit . efek sampingnya yang dapat terjadi ialah penularan virus dan reaksi anafilaksis. antigen memacu produksi berbagai antibodi, masing-masing dengan spesifisitas sendiri. valensi antigen adalah sama dengan jumlah total epitop yang dimiliki antigen.
C. PLASMAFERESIS
plasmaferesis adalah tearapi diluat tubuh. komponen darah dipisahkan, diterapi dan selanjutnya dimasukkan kembali kedalam tubuh . exchange plasma adalah prosedur yang memisahkan darah berdasarkan komponennya( sel darah putih, sel darah merah, trombosit dan plasma). selanjutnya plasma dikeluarkan dan diganti dengan substitut plasma. perbaikan pada plasmaferesis disebabkan plasma yang dipisahkan mengandung banyak antibodi yang dapat merusak jaringan atau sel.
D. LEUKOFORESIS
pemisahak leukosit secara selektif dari poenderita telah pula dilakukan dalam usaha terapi pada AR yang tidak memberikan respons dengan cara-cara yang sudah ada.
A. ISG dan HSG
imunoglobulin dapat diberikan sebagai imunorestorasi pada penderita dengan defisiensi imun humoral, baik primer maupun sekunder. defisiensi immunoglobulin sekunder dapat terjadi bila tubuh kehilangan Ig dalam jumlah besar, misalnya pada sindrom nefrotik, limfangiektasi intestinal, dermatitis eksfoliaktif dan luka bakar. pada luka bakar yang luas, imunitas dapat terganggu dan penderita meninggal akibat sepsis yang tidak dapat ditolong dengan pemberian antibiotik.
ISG maupun HSG dapat digunakan untuk imunorestorasi. ISG diberikan secara IV dengan aman. efek sampingnya berupa menggigil, mual, muntah, pusing dan sakit otot yang ringan dapat dihilangkan dengan menghentikan atau memperlambat pemberiannya. reaksi anafilaksis timbul bila terjadi kompleks imun yang terdiri dari anti IgA yang dibentuk resipien yang defisiensi IgA terhadap IgA yang berasal dari preparat ISG. kompleks tersebut dapat mengaktifkan komplemen melalui jalur klasik atau alternatif. antibodi dapat dibentuk terhadap B-lipoprotein yang berada dalam ISG.
B. PLASMA
infus plasma segar sudah diberikam sejak tahun 1960 dalam usaha memperbaiki sistem imun. keuntungannya ialah karena semua jenis imunoglobulin dapat diberikan dalam jumlah besar tanpa menimbulkan rasa sakit . efek sampingnya yang dapat terjadi ialah penularan virus dan reaksi anafilaksis. antigen memacu produksi berbagai antibodi, masing-masing dengan spesifisitas sendiri. valensi antigen adalah sama dengan jumlah total epitop yang dimiliki antigen.
C. PLASMAFERESIS
plasmaferesis adalah tearapi diluat tubuh. komponen darah dipisahkan, diterapi dan selanjutnya dimasukkan kembali kedalam tubuh . exchange plasma adalah prosedur yang memisahkan darah berdasarkan komponennya( sel darah putih, sel darah merah, trombosit dan plasma). selanjutnya plasma dikeluarkan dan diganti dengan substitut plasma. perbaikan pada plasmaferesis disebabkan plasma yang dipisahkan mengandung banyak antibodi yang dapat merusak jaringan atau sel.
D. LEUKOFORESIS
pemisahak leukosit secara selektif dari poenderita telah pula dilakukan dalam usaha terapi pada AR yang tidak memberikan respons dengan cara-cara yang sudah ada.
imunologi
imunitas adalah resistensi terhadap penyakit terutama infeksi. gabungan sel, molekul dan jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi disebut sistem imun. reaksi yang dikoordinasi sel-sel , molekul dan bahan lainnya terhadap mikroba disebut respons imun. sistem imun diperlukan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup.











